Masuk Nominasi 50 Besar Desa Terbaik Se-Indonesia, Sumberbulu Hasilkan 19 Varian Jamu dan Terapi Spa Wellness
JEJAKVIRAL - Desa Wisata Sumberbulu yang terletak di Desa Pendem, Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, bisa menjadi contoh bagi banyak desa lainnya.
Desa wisata Sumberbulu masuk dalam nominasi 50 besar desa terbaik se-Indonesia dan lima besar tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Yang menarik dari Desa Sumberbulu ini adalah menjadi tempat wisata edukasi dan ekowisata berbasis kearifan lokal.
Berawal dari masa Pendemi Covid-19 beberapa tahun lalu, desa yang memiliki sumber daya alam berupa tanaman obat ini berubah menjadi desa wisata dan edukasi.
Di desa tersebut, setiap rumah memiliki lahan yang ditanami tanaman obat, namun saat itu belum berkembang. Warganya hanya menjual tanaman obat belum dalam bentuk kemasan jamu jadi.
Salah satu yang terlibat dalam membentuk Sumberbulu menjadi desa wisata dan ekowisata adalah Titin Riyadiningsih, sarjana lulusan fakultas kedokteran gigi dari UGM.
Fashionnya untuk mengolah Desa sumberpuluh ini menjadi desa wisata itu begitu kuat.
Dengan pengalaman berorganisasi, dia berhasil menggalang warga desa yang semula hanya menjual bahan mentah untuk produksi jamu, menjadi bahan jadi.
"Di desa wisata Sumberbulu untuk saat ini produk unggulan berupa jamu tradisional dengan 19 varian," ujar Titin Riyadiningsih dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (4/3/2025).
Titin mengungkapkan, Desa Sumberbulu terdapat banyak sekali tanaman toga atau tanaman obat-obatan di pekarangan rumah atau perkebunan masyarakat sendiri.
Sebelumnya masyarakat di sana hanya menjual dalam produk mentah. "Jadi dijual hanya sekilo atau 2 kilo itu harganya Rp 10.000 Rp 5.000 ada juga kunir itu harganya belum jadi Rp 2000," kenang Titin.
Akhirnya, lanjut Titin, dirinya bersama masyarakat di sana sama-sama memikirkan produk sebelum dijual itu mempunyai nilai lebih.
"Kita membuat sebuah jamu tradisional. Jamu instan tradisional Sumberbulu ini kita mempunyai visi dan misi yang untuk menjalankannya. Dalam artian kalau desa wisata Sumberbulu untuk menjadi desa wisata mandiri dan terbaik," paparnya.
Kemudian, menjaga sebuah produk jamu ini juga menggunakan sebuah visi biar nanti ke depannya itu tidak hanya sebatas menjual jamu saja.
"Kita mempunyai visi yaitu jamu desa wisata ini menjadi produk unggulan dan menjamin kualitasnya yang terbaik. Misinya sendiri Kita meningkatkan keamanan khasiat dan manfaat mutu jamu, meningkatkan kemandirian bahan baku jamu," terangnya.
Jadi, bahan baku pun tidak mengambil dari luar desa, tapi dari lokal dari desa wisata sendiri. Sebab, di semua pekarangan rumah warga sendiri itu sangat subur.
"Semua bahannya kita ambil dari lokal. Untuk mengembangkan industri jamu tidak hanya pasar lokal tapi juga untuk mendorong ke pasar global sendiri. Karena itu, untuk meningkatkan pemanfaatan jamu dalam pelayanan kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh ini sangat menjadi hal yang paling utama," paparnya.
Lahir di masa pandemi di bulan Oktober 2020, Desa Wisata Sumberbulu membuat sebuah branding, tak hanya menjadikan survive di masyarakat dalam segi kesehatan tapi juga dalam segi ekonominya.
"Kita berusaha untuk mewujudkan jamu yang aman, berkhasiat dan bermutu dengan dukungan industri yang mandiri dan berdaya saing dalam pelayanan kesehatan," jelasnya.
Menariknya lagi, di desa wisata Sumberbulu sendiri tidak hanya memproduksi sebuah jamu tapi juga menyiapkan terapi.
"Terapi segala macam, juga ada pijat terapi juga kita memajukan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang istilahnya sudah konsern di bidang kesehatan," katanya.
Titin menegaskan, perkembangan jamu ini untuk kesehatan, kecantikan dan kebugaran.
"Kita baru mengcreate untuk jamu sendiri kan ada pembuatan jamunya ada limbahnya. Nah ini kita baru proses penelitian untuk pembuatan lilin aromaterapi dan juga lulur untuk kecantikan.
Selain pengembangan jamu, lanjut Titin, ada makanan dan minuman khas. Salah satunya adalah timus Jahe.
"Jadi timus itu rasanya jahe dan minumannya kita ada 19 varian. Di Desa Sumberbulu, jamu menjadi wisata edukasi unggulan. Banyak sekali pengunjung datang untuk belajar terkait pembuatan jamu yang masih tradisional dan original," ujar Titin.