Baru Sebatas Produk Etna Bali, ini Peluang Bisnis Spa Wellness di Eropa
JEJAKVIRAL - Etnaprana atau spa wellness khas Nusantara sudah menembus pasar Eropa.
Sayangnya, produk-produk yang dipasarkan baru sebatas pada Etnaprana Bali.
Namun demikian, pasar spa wellness Nusantara yang sudah ditemukenali sebanyak 15 belas Etna berpeluang besar diminati orang Eropa.
Apalagi, seorang Polandia pecinta Indonesia, owner dari Dolina Charlotty sangat menginginkan adanya miniatur Indonesia seperti Taman Mini ada di negaranya.
Dari situlah, konsultan Dolina Charlotty, Dwi R Atmodjo menumpahkan pemikiran-pemikirannya agar kita bisa membantu konsul kehormatan ini yang juga mempunyai destinasi wisata di Polandia.
"Spa Dolina Charlotty ini terdapat 12 ruangan dan terapisnya juga sebagian besar dari Bali yaitu kurang lebih ada 9 terapis. Tapi hanya Bali saja yang saya lihat," ujarnya.
Kemudian Dwi mencoba berkeliling ke beberapa kota di Polandia yaitu kota Gdanks, Krakow dan Warsawa yang saat ini cukup banyak sebetulnya di masing-masing kota tersebut spa-pa yang ada di Polandia.
Diungkapkan Dwi, di Gdansk itu ada lebih dari 30 spa. Di Krakow juga ada lebih dari 30 spa.
Terdiri dari spa yang berdiri sendiri juga di hotel. Kemudian juga di Warsawa juga cukup banyak.
"Dan terapis yang mereka gunakan kebanyakan dari Bali. Bali menjadi satu berlian dunia sehingga spa yang ada di Polandia kemudian Jerman terapisnya dari Bali," jelasnya seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (21/7/2025).
Di sana, menurut Dwi, ada Bali Hai, Bali Thai. Tapi terapisnya kebanyakan dari Bali.
Inilah yang ia coba komunikasikan dengan Founder Board of ETNA Agnes Lourda Hutagalung. Bahwa ini semua kesempatan yang bagus sekali untuk mengembangkan spa tradisional.
"Terutama spa tradisional Indonesia untuk berkembang di Eropa," terangnya.
Bisnis itu, menurutnya, dimulai dari terapisnya mungkin nanti minyak aromaterapi, ataupun obat-obatan herbal tradisionalnya, termasuk juga makanan tradisionalnya.
Sehingga promosi Indonesia kalau di Polandia dan Eropa itu bisa berkembang.
"Ini harapan cukup besar bahwa bisnis spa tradisional Indonesia di Eropa. Saya melihat spa itu yang memang mayoritas adalah Bali dan Thailand. Ada beberapa juga dari Timur Tengah," jelasnya.
Yang menarik, sambung Dwi, obat-obatan herbalnya itu kebanyakan tidak dari Indonesia. Tapi ada yang dari Swiss, ada yang dari negara-negara di sekitar Eropa itu sendiri.
Sehingga herbal itu menjadi pasar yang sangat-sangat bagus sekali, sangat-sangat menjanjikan untuk bisa berkembang di Eropa.
"Mereka punya spesifikasi sendiri. Misalnya di Krakow itu mereka lebih ke treatment garam," ujarnya.
Tak hanya itu, menurut Dwi, mereka menjadikan bangunan-bangunan tua dimodifikasi dicustom sedemikian rupa menjadi sebuah spa estetik yang bagus sekali.
Tapi itu berbeda dengan di kota kendaraan maupun di kota Warsawa atau Gdansk. Di Warsawa, sebagai pusat kota Polandia sebagai tempat spa lebih banyak di hotel dan juga grafis-grafis yang mungkin tidak jauh beda Indonesia.
Tapi begitu kita masuk ke Berlin, Hamburg itu, sambungnya, sudah berbeda lagi. Jadi kalau di Jerman itu lebih ke spa air panas terapinya.
Sehingga ini pasar yang besar bagi bagi Indonesia ini terutama melalui ethnowellness nanti kalau kita bisa kirim terapis dan itu juga sudah akan akan dilakukan wellnesnya yang nanti list-nya ada di Dolina Charlotty.
"Di sana mungkin kita akan mengundang terapis-terapisnya untuk latihan ataupun pendidikan terapis Indonesia atau Spa ini Indonesia," katanya.
Sebab, peluang di setiap provinsi itu mempunyai perbedaan sungguh-sungguh berbeda sekali ya kan treatment di spa di di Eropa.
"Karena di kita mempunyai minyak aromatik yang berbeda di setiap provinsinya, herbalnya berbeda, makanan tradisionalnya berbeda dan itu ini tentu sebuah kekayaan bagi kita bisa kita pasarkan di sana," tandasnya.