Potensinya Sangat Besar, Budaya Betawi Harus Terus Digali
JEJAKVIRAL - Masih banyak orang awam terhadap isi dari keseluruhan kebudayaan Betawi. Mulai dari praktik kesehatan, kebugaran, kecantikan, makanan dan minuman khasnya.
Umumnya, orang berkecenderungan mengetahui adat istiadat Betawi hanya pada lenong, ondel-ondel, tanjidor, silat beksi atau tradisi palang pintu saja.
Padahal, kekayaan kebudayaan Betawi bukan hanya itu. Selain tradisi kesehatan dan kebugaran, ada juga kecantikan dan kulinernya.
"Mereka yang tinggal di wilayah Jakarta dan sekitarnya secara tidak langsung pernah mencicipi Ali Bagente. Ini aja sekarang udah susah banget didapet. Padahal ini makanan waktu saya kecil. Saya kecil masih gampang dicari," papar dr Inggrid Tania dari PDPOTJI saat diskusi di Forum Group Discussion (FGD) di acara Jakarta Walking Tour Festival (JWTF) 2025 pada Rabu-Kamis (12-/13/2025).
Menurut dr Inggrid, pengetahuan jamu tradisional Betawi sebetulnya beda sama Jawa.
"Tapi jamu-jamu yang banyak kita teliti yang kita kembangkan kebanyakan dari Jawa sama dari Bali. Jamu Betawi ini banyak terlupakan dan bahkan kurang digali," terangnya.
Sebetulnya, lanjut dr Inggrid, ini tugas kita untuk menggali sebelum punah.
"Kalau enggak digali oleh generasi yang sebelum-sebelum kita kan yang meninggal terus belum tentu diturunkan ke generasi di bawahnya yang akhirnya pengetahuan tradisional (Betawi) itu menjadi punah," kata dr Inggrid.
"Kalau itu tidak kita gali, tidak kita kembangkan, tidak kita kampanyekan untuk dimanfaatkan untuk masyarakat kita sendiri, sangat disayangkan. Padahal budaya Betawi ini juga punya daya jual untuk turis," tambahnya.
dr Inggrid bercerita kalau dirinya saat berkumpul bersama para dokter pengembang obat tradisional dan jamu Indonesia sering mengadakan training.
"Training course tidak hanya untuk dokter Indonesia atau tenaga kesehatan Indonesia. Tapi kami sering mengadakan untuk masyarakat Singapura dan Malaysia dan mereka banyak yang memang turis di sini," ungkapnya.
Jadi kalau ia mengadakan kursus atau training misalnya community herbal system kebanyakan kan mereka diajarkan herbal-herbal atau pengobatan tradisional atau hidup secara holistik Indonesia yang berakar dari budaya Jawa sama Bali saja.
"Saya sempat menawarkan mau di Jakarta enggak, mereka nolak karena mereka mikir Jakarta sama aja kayak Kuala lumpur, kayak Singapore gitu. Apa kekhasan Betawi itu mereka enggak tahu. Kita mau ngajarin juga masih kurang tergali nih ilmunya," ucap dr Inggrid.
Padahal, lanjutnya, sebenarnya potensinya besar banget kalau budaya Betawi bisa digali.
"Kalau ini bisa digali terus, Jakarta bisa menjadi pusat wellness nusantara buat para turis asing," tandasnya.