Skip to main content
x

Ternyata, Tanda Orang Stres itu Kalau Lihat Sesuatu Selalu dengan Pandangan Sinis

JEJAKVIRAL - Diprediksikan,  dalam beberapa tahun ke depan,  yang bisa lebih sukses itu bukan cuman orang yang mengerti atau expert di bidangnya.

Tapi dia juga memahami  teknologi artificial inteligent (AI). Yang harus dipahami tentu literasinya gimana atau penggunaannya itu seperti apa.  

"Ini kan hal-hal yang baru terjadi. Tapi makin lama makin tajam dan ini yang membuat perubahan kondisi semakin cepat," papar psikolog.dari UI, Saskhya Aulia Prima seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (29/10/2025).

Beberapa contoh  perubahan cepat itu semua orang mungkin sudah tahu bahwa angka pengangguran makin naik. 

"Karena itu kemampuan kita belajar cepat dan beradaptasi  harus lebih cepat banget," tambahnya.

Dikatakan Saskhya bahwa kita  butuh teknikal-teknik plus skill yang banyak. 

Menurutnya,  memang zaman saat ini lebih advances dibanding dengan zaman milenial dulu atau sebelumnya.

"Dunia kerja saat ini udah enggak laku lagi atau enggak bisa kita memandang situasi kerjaan, cara belajar karyawan, cara belajar kita sendiri dengan hal-hal yang dulu," jelasnya.

Karena memang, sambungnya, saat ini banyak orang lebih pintar. Apalagi didukung dengan informasi yang lebih banyak. 

"Dengan cepatnya perubahan tersebut  sebenarnya kalau secara di level manusia gitu ya otak kita itu senang banget sama sesuatu yang terprediksi sebelumnya," urainya.

Dengan kondisi demikian akan  membuat kita tenang.  Sesuatu yang berubah-ubah, sesuatu yang berganti-ganti itu tuh bikin otak  stres.

"Tidak ada pattern yang bisa ditangkap. Zaman sekarang ini yang konsisten adalah sesuatu yang inkonsisten," tambahnya.

Karena itu, sambung Saskhya,  kita harus terbiasa dengan inkonsistensi. 

"Itu  memang berat banget karena melawan nature kita. Makanya teman-teman yang zaman sekarang itu lebih mudah untuk stres. Mengalami   kelelahan secara mental dan fisik," ujarnya. 

Saskhya menggambarkan seseorang yang stres itu memandang sesuatu dengan sinis  atau jadi pengin  enggak bersinggungan lagi dengan hal-hal yang  dikerjakan.

Tak hanya itu,  lanjutnya, kita juga sering terjebak hustle culture.  

"Kita pinginnya saingan terus kayak  kerja terus gitu. Sementara secara fisik dan mental seseorang ada batasannya," jelasnya.

Kemudian digital fortigue. Dengan kondisi yang sangat melelahkan capek banget  biasanya kita enggak sadar dengan kondisi di lingkungannya.

"Orang-orang di zaman digital  tanpa  disadari  ternyata ngaruh banget di kita misalnya  double speed watching, terus kita bangun pagi lihatnya notification atau misalnya kita gampang banget ganti-ganti screen," jelasnya.

Kondisi tersebut tentu berkontribusi terhadap masalah mental seseorang. Tanda-tandanya  fokus mulai menurun.

 "Kita juga jadi lebih sering merasakan  capek dan lain sebagainya," tandasnya.

 

 

Daerah