Skip to main content
x

Ternyata, Stres Menjadi Tanda yang Bagus Bagi Seseorang, ini Alasannya!

JEJAKVIRAL - Stres yang menumpuk bisa berpengaruh pada masalah fisik. Namun demikian, stres juga bisa menjadi tanda yang bagus pada seseorang.

Hal ini disampaikan Psikolog Anak Saskhya Aulia Prima dalam webinar seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Jumat (22/3/2025).

Menurut Saskhya, stres itu sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena stres itu selalu ada, terkait dengan masalah mental dan segala macamnya itu merupakan specifickly.

"Stres itu adalah kata yang netral. Jadi secara umum intinya happiness itu ada proporsinya.  50% memang ada orang-orang yang  lebih mudah untuk happy secara genetik. Ada orang  yang memang hidupnya lebih syalala," papar Saskhya.

Jadi 50%, lanjutnya adalah  genetik. Genetik ini  berarti ada orang yang terakhir memang lebih mudah untuk happy.

 Sedangkan 10% itu adalah masalah kita sehari-hari, masalah pada situasi. Tapi 40%-nya merupakan harapan.

"Kenapa? Karena 40%  adalah bagaimana cara kita melihat  10% tadi dan bagaimana cara kita menangani stres yang 10% tadi," ujar Saskhya.

Kalaupun  enggak punya yang 50%, lanjutnya, sebenarnya 40% itu sangat bisa diusahakan.

"Jadi  stress itu juga sebenarnya adalah tanda yang bagus. Karena kalau kita enggak ada stress enggak bakal mau kita bangun pagi terus misalnya mungkin berangkat kerja terus misalnya ngurusin anak sekolah," paparnya.

 Karena itu, sambung Saskhya, dalam mengelola stres  ada drive-nya.  Dalam beberapa penelitian  juga pengalaman  sehari-hari  lingkungan kerja yang sehat harus menjadi ideal untuk diterapkan.

"Dari mulai komunikasi efektif yang supportif balance selingkungan yang beragam dan tersedianya wellness program yang  memadai untuk tiap lembaga kepada karyawannya," jelasnya.

Saskhya mengamati bahwa jaman sekarang sudah banyak orang yang aware dengan  kesehatan mental.

"Bagaimana para leader (di perusahaan) pun saya sering training punya kebutuhan untuk lebih memahami antargenerasi dan punya kebutuhan untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Udah mulai ada yang aware lah sama hal-hal tersebut. Serta saling memahami antartim  di dalam sebuah kantor," terang Saskhya.

Apalagi, di dunia pekerjaan ada tiga generasi, yakni Gen Millenial, Gen Z dan Gen X.

"Ternyata gen milenial sama gen Z itu enggak terlalu beda. Cuman biasanya dosisnya lebih beda. Lebih banyak Gen Z sedikit, kadang lebih banyak milenial  sedikit misalnya di  work ethic," paparnya. 

Dalam pandangannya secara Work Ethic, gen X lebih cenderung memprioritaskan pekerjaan dibanding hal lain.

Sementara milenial dan Gen Z lebih memprioritaskan work-life-bakance.

Dalam gaya kepemimpinan, Gen X lebih nyaman sendiri, sedangkan Gen Milenial dan Gen Z lebih suka berkolaborasi dan team oriented

Untuk mencapai perkembangan karir pun berbeda. Gen X akan lebih setia untuk berkarir. Gen Milenial dan Gen Zclebih mudah dan terbuka untuk mencari kesempatan baru.

"Beda lagi dengan tujuan pekerjaan. Gen X menginginkan pekerjaan yang stabil dan kepastian finansial. Sedangkan Gen Z dan milenial akan menentukan apakah tujuan pekerjaan itu lebih sesuai atau tidak dengan misi pribadi," tandasnya.

 

Daerah