Siapa pun Bisa Bikin Jamu dengan Membaca Riset dari Internet, Tapi Ada Syaratnya Agar Tak jadi Racun
JEJAKVIRAL - Siapa pun bisa membuat tanaman obat, herbal atau jamu khas Indonesia secara mandiri berdasarkan riset ilmiah.
Apalagi di jaman teknologi digital yang semakin canggih. Data-data untuk membuat jamu tertentu bertebaran di dunia maya atau internet.
Bahkan, hasil-hasil riset ilmiah tentang jamu pun banyak yang bisa dibaca dengan cara Googling.
Namun demikian, tidak boleh orang sembarangan membuat sebuah ramuan jamu meskipun mengikuti panduan riset ilmiah.
"Anda harus berkonsultasi atau bertanya ke universitas atau Dewan Jamu Indonesia di tiap provinsi," papar Fajar Prasetya dari Dewan Jamu Indonesia seperti dikutip dari akun YouTube Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada Senin (3/11/2025).
Sebelum jauh mengulas tentang proses pembuatan jamu yang benar, Fajar mengingatkan kepada setiap pecinta jamu untuk mengikuti tatanan hukum.
"Dunia ini ada bukan karena keinginan kita. Ada yang menciptakan dan yang menciptakan ini punya standar, punya hukum, punya aturan. Jadi kita nggak bisa melakukan sesuatu hanya berbasis keinginan," jelasnya.
Ditegaskan Fajar bahwa sudah ada hukum-hukum ketetapan-ketetapan yang ditentukan oleh yang menciptakan.
"Atau yang saya lebih senang menggunakan kata pemilik kesadaran sejati yang telah menetapkan aturan. Maka, supaya kita bisa menjadi pemangku bumi, maka kita harus belajar," terangnya.
Terkait dengan cara membuat jamu pun, lanjut Fajar, harus belajar dan bertanya kepada ahlinya.
"Nah artinya kita punya akal, punya perasaan, punya kemampuan untuk bisa memahami aturan. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu takaran membuat jamu?" ujarnya.
Menurutnya, data riset tentang jamu sudah ada puluhan ribu di internet. Tapi dia tidak menyarankan orang awam untuk membaca hasil riset tersebut.
"Hasil riset itu punya tata cara prosedur untuk bisa memahaminya. Dan orang awan tidak bisa begitu saja mengaplikasikan hasil riset ilmiah pembuatan jamu yang ada di internet," jelasnya.
Bahkan, sambungnya, Dewan Jamu Indonesia bekerjasama dengan melakukan MoU dengan Badan Riset Indonesia (BRIN) untuk membuat suatu formula sebuah kitab jamu.
Tak hanya dengan BRIN, Fajar juga mengatakan bahwa Dewan Jamu sudah bekerja sama dengan universitas-universitas di tiap provinsi.
"Jadi nanti akan ada kitab jamu dari Kalimantan Timur, Kitab jamu dari Jawa Tengah, kitab jamu dari Yogyakarta dan sebagainya," urai Fajar.
Dikatakan Fajar, kitab-kitab jamu itu berisi hasil-hasil riset atau hasil-hasil pembacaan sehingga kita tahu bagaimana prosedur membuat jamu dan bagaimana takarannya.
"Kalau salah dalam takaran (membuat jamu) malah jadi racun," tegasnya.
Fajar mencontohkan hasil riset tentang jamu penurun panas yang didapat dari internet.
"Kalau mau menghasilkan efek yang bagus untuk menurunkan panas sambiloto ini paling tidak membutuhkan 100 gram daun segar. Tapi kalau menggunakan daun kering ini bahaya. Karena takaran 100 gram dari daun kering ini malah beracun," jelasnya.
Sekali lagi, Fajar meminta kepada masyarakat umum yang awam tentang pembuatan jamu untuk tidak melakukannya sebelum konsultasi ke BPOM, universitas atau Dewan Janu.
"Saya kira silakan konsultasi ke Dewan Jamu di Jawa Timur misalnya. Di Bali juga ada. Silakan datang ke masing-masing kota atau provinsi, ada Dewan Jamu," tandasnya.