Sejarah Etnik Betawi Dimulai dari Perdagangan Rempah-rempah
JEJAKVIRAL - Sebelum menjadi nama Jakarta atau Batavia di masa kolonial Belanda, ibu kota sudah ditempati oleh manusia-manusia yang kala itu dikatakan sebagai manusia Proto Melayu Betawi.
Kawasan Batavia yang saat itu bernama Bandar sebelum Sunda Kelapa sesudah abad kedua dikuasai kerajaan Salakanagara.
Kemudian di abad ke-5 Kerajaan Tarumanegara. Masuk lagi pada abad 8 dan 9 Kerajaan Sriwijaya.
Di abad ke-13, 14 dan 15 masuk kerajaan Sunda Padjajaran.
Setelah itu, masuk kekuatan Islam gabungan Kesultanan Demak, Cirebon dan Banten yang dikomandani oleh Fatahillah di tahun 1527.
"Di abad ke-16 kawasan ini semakin ramai.Terutama memang ketika orang-orang dari Eropa, ada Portugis, Belanda, Prancis dan Inggris berdatangan dan mereka melakukan MoU-MoU dan perdagangan perdagangan di kawasan ini," terang Budayawan Betawi Dr Andi Yahya Saputra seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (27/5/2025).
Menurut Andi Yahya Saputra, beberapa dari mereka memang sangat menginginkan menguasai kawasan (Betawi) ini.
Misalnya perjanjian yang dilakukan oleh Portugis di tahun 1015 kepada kerajaan Sunda Padjajaran itu dalam hal rempah.
Saat itu kekayaan rempah, pala, cengkeh dan jenis lainnya, menjadi komoditas yang sangat dicari dan laku dalam perdagangan internasional.
"Maka memang kota ini berkembang pada masa itu kemudian menjadi awalnya Bandar. Karena memang awal kehidupan itu ada di pesisir di bandar itu, tepatnya Pelabuhan Sunda Kelapa..
Bandar Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta ketika dikuasai oleh Fatahillah, Tubagus Angke dan Ahmad Jaketra.
"Di jaman Jan Pieter Coen pada tahun 1619, Jayakarta dibumi hanguskan dan berganti nama menjadi Batavia.
Pada masa pergantian kekuasaan pra kemerdekaan, tepatnya di masa Jepan. Militer Jepang memberi nama kota ini dengan sebutan Jakurata.
Dan ketika kemerdekaan maka melalui keputusan presiden yang ditetapkanlah kota ini sebagai Jakarta dan mendapat peran sebagai ibukota negara.
Dari bandar, Sunda Kelapa kegiatan-kegiatan bisnis dan segala macamnya peradaban itu. oleh karena itu perkembangan Kota Jakarta sebagai kota metropolitan berkembang.
Di dalamnya ada manusia yang hidup di dalam kota itu. Mereka menyebutkan disebut manusia Proto Melayu Betawi.
"Kenapa begitu? Karena ia tidak diketahui etniknya," tambahnya.
Untuk kemudian hari maka berdasarkan beberapa kajian dan orang-orang memberikan tanda dari kawasan ini maka disebutlah kawasan bandar Sunda Kelapa, lalu Jayakarta kemudian Batavia adalah salah satunya Betawi.
"Karena kawasan ini sangat dinamis saudara-saudara kita dari China dari Arab dari Jepang dan dari tempat-tempat lain berdatangan di sini," terang anggota Indonesia Wellness Master Association (IWMA) ini.
Mereka tujuannya macam-macam, terutama memang tujuannya perdagangan atau bisnis.
Pada masa kekuasaan Jan Pieter Coen, Jayakarta di tahun 1619 mendatangkan berbagai macam etnik dan hasil penaklukan untuk membangun kota yang kemudian namanya Batavia.
"Maka dibangunlah kota Batavia ini dengan mendatangkan macam-macam orang. Baik orang yang sengaja di datangkan para ahli maupun orang-orang yang ditaklukkan karena perang," tandasnya.