Menyusul Eropa, Jamu Nusantara Sudah Diterima di Pasar Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin
JEJAKVIRAL - Secara turun temurun, masyarakat Indonesia memiliki tradisi menjaga kesehatan dan kebugaran dengan minum jamu.
Hingga di era moderen ketika bermunculan obat-obatan yang diproduksi banyak pabrik, jamu tetap eksis menjadi bagian budaya nusantara.
Ya, jamu merupakan obat tradisional Indonesia berupa ramuan dari tumbuhan, hewan, mineral, atau campurannya
Jamu Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.
Jamu dapat memiliki manfaat untuk menyembuhkan atau mencegah berbagai penyakit.
Wakil Ketua GP Jamu Thomas Hartono seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (28/8/2025) mengatakan bahwa pihaknya meletakkan jamu itu dalam beberapa kategori yang sudah dicanangkan oleh BPOM.
"Dan itu harus kita turuti dan jalankan sebelum kita menuju ke ekspor," terang Thomas.
Kategori jamu itu sendiri, menurutnya, sudah sesuai peraturan BPOM menjadi tiga.
Pertama, jamu yang merupakan warisan dari leluhur yang tidak bisa dihilangkan.
"Karena sudah menjadi kebudayaan di Indonesia dan akan tetap dipertahankan dengan registrasi jamu," ujarnya.
Kedua, jamu yang ditingkatkan menjadi Obat Herbal Tersandar (OHT). Ini sudah menjadi jamu yang berstandar atau istilahnya obat herbal standar.
"OHT ini menyangkut juga di dalamnya ada vitamin dan lain-lain," tambahnya.
Ketiga jamu fitofarmaka. Jamu yang dikembangkan secara scientific dan bisa mengklaim nantinya menjadi mencegah menyembuhkan dan mengobati.
Namun demikian, kata Thomas, Fitofarmaka ini membutuhkan proses yang panjang dan biaya yang besar.
"Bisa satu sampai dua tahun dan apabila berhasil maka hasilnya juga bisa dipromosikan secara umum ke dunia," paparnya.
Dari OHT dan Fitofarmaka inilah, terang Thomas, anggota-anggota GP Jamu sudah bisa expor ke mancanegara.
Sebab, setelah di tes di negara masing-masing sudah bisa diakui oleh negara tertentu.
"Terutama di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika latin," terangnya.
Sementara untuk pasar Eropa dan Amerika, lanjutnya, membutuhkan waktu yang lebih lanjut ke arah obat.
Thomas menambahkan bahwa jamu tak lepas dari rempah-rempah.
Di Indonesia, rempah-rempah itu sendiri sehari-hari dikonsumsi sebagai makanan rumah tangga dan restoran dan lain-lainnya.
"Tapi rempah atau spices yang dipakai untuk jamu kosmetik dan produk farmasi dan produk makanan minuman adalah produk tertentu yang tidak diproduksi untuk sehari-hari," tandasnya.