Filosofi Spa Bugis Antara Keseimbangan dan Harmoni 4 Unsur Dasar Kejadian Manusia
JEJAKVIRAL- Untuk menjadi sehat, cantik secara fisik tentu saja berpengaruh kepada hati dan mental pada diri seseorang.
Untuk bisa tampil prima bisa menggunakan ramuan-ramuan dari berbagai suku bangsa yang ada di Republik ini.
Salah satunya adalah filosofi tradisi kesehatan Bedda Lotong dari Suku Bugis, Sulawesi Selatan yang merupakan sumber kesehatan dan kecantikan wanita Bugis.
" Sebagian masyarakat Bugis itu tersebar di beberapa kabupaten kota yang ada di Sulsel," terang Prof Dr Pawennari Hijjang, Dosen Antropologi di Fisip Universitas Hasanuddin Makassar seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (30/1/2025).
Menurutnya, suku Bugis tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
"Ada di Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Enrekang, dan lain sebagainya dengan jumlah penduduk yang cukup banyak," paparnya.
Dikatakan Prof Dr Pawennari Hijjang, diaspora orang Bugis juga dikenal melalui perdagangan.
"Di mana-mana orang Bugis berdagang di pasar. Baik itu di pasar-pasar tradisional, pasar semi tradisional dan pasar modern," jelasnya.
Jadi, lanjutnya, niat baik orang Bugis itu merantau bertujuan untuk membantu orang banyak.
"Mereka menyediakan jualan-jualan sesuai dengan kebutuhan suku bangsa tempat suku Bugis merantau," tambahnya.
Sehingga, imbuh Prof Dr Pawennari Hijjang, orang Bugis yang besar dari berbagai sumber daya dengan konteks lokal Sulawesi Selatan, juga di luar Sulawesi secara nasional.
Prof Dr Pawennari Hijjang menceritakan saat ia berdiskusi dengan diaspora asal Bugis yang kebetulan ketemu di Amsterdam, Belanda.
Di ruang tunggu, saat ia mau pulang melihat dari jauh ada tiga orang, satu perempuan dua laki-laki. Dari postur tubuh dia adalah orang Asia.
"Kemudian saya berdiskusi dan memastikan setelah mendengar logatnya dia orang Bugis. Ketemu di tempat yang jauh sana. Banyak yang kita ceritakan. Jadi banyak akses-akses orang Bugis untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain. Tapi waktu itu kita tidak membicarakan Bedda Lotong yang merupakan salah satu rahasia kecantikan wanita Bugis. Karena keterkaitan dengan diaspora yang seperti itulah orang Sulawesi Selatan," urainya.
Dari sejarah, diungkapkan Prof Pawennari Hijjang, geografis tanah Bugis terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan Indonesia Tengah.
"Tapi kampung Bugis ada di banyak tempat. Ada di Jakarta, dan daerah-daerah lain," katanya.
Mengutip Prof Mattulada yang ditulis tahun 1998 yang menegaskan bahwa orang Bugis bertebaran di luar daerah asalnya. Seperti di Pagatan, Kalimantan Selatan, di sepanjang pesisir Pantai Malaysia Barat, pantai Sumatera dan pulau-pulau lainnya di Nusantara.
Ada juga tulisan dari Pelras tahun 2006 yang menyebutkan bahwa profesi orang-orang Bugis secara tradisional adalah bertani.
"Beberapa abad selanjutnya menjadi pelaut dan pelayar," jelasnya.
Menurut Prof Dr Pawennari Hijjang, ada istilah Pangngadereng orang Bugis, yakni kehidupan sosial masyarakat Bugis itu ada "Ade", "bicara", "rapang", "wari" dan "shara,"
Ketika kita bicara Bedda Lotong, maka yang dibayangkan adalah gadis-gadis Bugis, wanita-wanita Bugis yang cantik dan selalu tampil prima.
Penilaian ini tentu saja berkaitan dengan filosofi orang-orang Bugis, wanita-wanita Bugis, yang mampu mengkonstruksi sebuah produk lokal yang disebut dengan Bedda Lotong.
"Sebagian besar masyarakat Bugis itu tersebar di beberapa kabupaten ada di Sulawesi Selatan, mulai Soppeng, Bone, Wajo dan sebagainya. Di sana mudah untuk menemukan produk kecantikan Bedda Lotong ," papar Antropolog dari Fisip Universitas Hasanuddin Makassar, Prof Dr Pawennari Hijjang seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Sabtu (1/3/2025).
Menurutnya, ada filosofi orang Bugis yang menyebutnya dengan Tellu Sulapa Epa. Di dalam filosofi itu ada prinsip harmonisasi "tiga segi empat".
Pertama empat unsur dasar kejadian manusia.
Kedua, ada empat kualitas alam sekitar manusia.
Ketiga, ada empat substansi cairan yang menyusun tubuh manusia.
"Dan di situlah orang Bugis belajar bagaimana mengkonstruksi produk lokal bermaterial bahan-bahan lokal yang bisa digunakan oleh gadis-gadis Bugis masa lalu l, masa kini dan tentu masa yang akan datang untuk menjaga keawetan tubuh, kulit, kecantikan dan sebagainya," papar Prof Dr Pawennari Hijjang.
Keterikatan dan kerjasama antara ketiga komponen itu, lanjutnya, maka orang akan menjadi sehat.
"Ada sumbernya, jadi saya tidak sekadar berimprovisasi. Jadi filosofi Etnowellness spa Bugis itu berada pada keseimbangan dan harmoni antara 4 unsur dasar kejadian manusia. Empat alam kualitas sekitar manusia dan empat cairan yang menyusun tubuh manusia," paparnya.
Sehingga, sambungnya, kita bisa lihat cairan apa yang dominan dalam tubuh sehingga bisa menjadi manusia yang punya karakter.
"Tellu Sulapa Epa sebagai filosofi asal kejadian manusia. Nah di sini ada yang beririsan dengan api, ada yang beririsan dengan tanah air dan angin," jelasnya.
Dikatakannya, ada empat unsur dasar dari filosofi Tellu Sulapa Epa tentang asal kejadian manusia.
Keempat unsur dasar itu adalah:
Pertama ini disebut dengan unsur tanah, air dan api atau sekurang-kurangnya bahwa dalam kehidupan manusia selalu tersusun dari zat-zat yang keempat unsur dasar menjadikan manusia.
"Jadi selalu tersusun dari sosok keempat unsur dasar itu. Api, Tanah Air dan api. Bahkan sering pula dipahami bahwa sifat manusia itu bisa diidentifikasi menurut sifat-sifat tanah sifat-sifat air, sifat api dan angin," ungkap Prof Dr Pawennari Hijjang.
Dia mencontohkan orang yang suka marah tanpa motivasi tertentu atau suka cepat marah adalah mengikuti sifat api.
Orang yang mempunyai sifat rendah diri tersinggung perasaannya tetapi tidak menyebabkan cepat parah adalah mengikuti sifat tanah.
"Begitu isi filosofi orang Bugis," tegasnya.
Kedua, kualitas alam sekitar. Empat kualitas alam sekitar, panas, dingin, kering dan lembab.
Kualitas alam sekitar ada empat panas dingin kering dan lembab. "Nah seperti apa kalau misalnya panas dalam diri seseorang, empat kualitas alam sekitar itu adalah panas dingin kering dan lembab.
"Kita semua pernah merasakan itu di waktu-waktu tertentu atau kondisi-kondisi cuaca tertentu," ujarnya
Menurutnya, orang Bugis menyebut keempat kualitas ini dengan istilah hawa.
"Apabila salah satu hal memberi pengaruh kuat terhadap tubuh yang menjadikannya sakit, maka tekanan hawa yang berlebihan itu dianggap sebagai penyebab terjadinya penyakit," tandasnya.