Budaya Betawi Harus Benar-benar Dijaga Demi Keseimbangan Antara Manusia, Mahluk Tuhan Lainnya dan Alam
JEJAKVIRAL - Ibu Kota Jakarta makin hari termutilasi oleh teknologi dan kemajuan. Namun demikian, tradisi dan budaya Betawi harus benar-benar dijaga demi keseimbangan antara manusia, mahluk Tuhan dan alam.
Kemajuan teknologi yang berkembang tak hanya memutilasi aktivitas manusia. Memang ada kelebihannya. Semua serba praktis.
Pakar Budaya Etnaprana Betawi di Indonesia Wellness master Association (IWMA) Engkong Andi Yahya Saputra seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (24/3/2025) mengungkapkan bahwa secara tradisional, teknologi juga tradisional.
"Karena untuk memasak sesuatu sehingga dia betul-betul menjadi asupan kesehatan jamu itu teknologi. Apinya harus jelas panasnya, berapa persen digepreknya itu barang, harus berapa biji itu ukurannya, harus berapa lembar itu daun salam yang dicampur," tandasnya.
Dengan adanya perubahan demografi di Ibu Kota Jakarta, Engkong Andi Yahya Saputra mengatakan telah terjadi setiap bulan mutilasi terhadap kota.
"Dulu itu misalnya kalau kita dari sini, dari Jakarta Pusat menuju Timur, dari timur sampai ke batas BKT, dari BKT kita menyusuri terus Marunda itu nanti akan ketemu beberapa kampung misalnya kampung Rorotan. Di kampung Rorotan itu kan dulu saya sampai sekarang masih menjadi kawasan pertanian. Tetapi semakin hari semakin berkurang," paparnya.
Dia mengkhawatirkan bahwa tanah pertanian itu termutilasi dan menjelma menjadi perkantoran atau rumahan, kawasan industri dan segala macamnya.
"Nah itulah yang saya maksud dengan pemutilasian," jelasnya.
Bahkan, mutilasi teknologi itu bisa dirasakan juga di dapur rumah kita. Menurutnya, dapur itu dulu secara tradisional mentransmisi hal Ikhwal menurunkan pengetahuan bikin sambal, mengenali bau arang untuk makanan-makanan tertentu, mengenali ukuran dari beras dan segala macam, mengenali macam-macam perlengkapan yang ada di dapur
"Sekarang dengan satu teknologi rice cooker memasak di dapur tinggal disetrumin itu barang, kita masukin air Kita masukin beras, air fryer, beras sudah matang dan siap dimakan," paparnya.
Dalam satu dapur itu, lanjutnya, yang tadinya itu satu benda maka hilang lah peralatan yang ada di dapur kira-kira 20-30 jenis alat.
"Dandang hilang, kukusan hilang, anglo hilang, arang hilang kemudian aron, air tajin juga hilang," ujarnya.
Padahal, lanjutnya, air tajin ini dulu bermanfaat bagi ibu yang habis beranak.
"Bisa saja ibu yang usai melahirkan itu tidak punya ASI. Makanya saya buru-buru ketika dia masak air aron atau air tajin dikumpulin buat susu orok," terangnya.
Jadi, sambungnya, pengetahuan terhadap pengetahuan tradisional juga teknologi tradisional terhadap itu akhirnya hilang begitu saja.
Ada tradisi lainnya yang dikaitkan dengan ritus atau ritual. Ritual itu macam-macam karena kita secara tradisional hidup tidak sendirian itu ada saudara kita yang hidup yang enggak kelihatan.
"Suara perempuan itu sangat disukai oleh makhluk yang tidak terlihat di sekeliling kita itu. Maka ada ritus ini ritus itu sehingga saya mengumpulkan obat-obatan herbal bagaimana seorang orok, kita tidak tahu kondisinya. Apakah dia panas, mau tumbuh gigi, panas kejang, ini semua secara alam sudah diekspresikan dalam satu relasi antara dunia nyata, dunia ghaib dan dunia maha ghaib.
Dia mengingatkan bahwa ada yang disebut dengan mikrokosmos. Manusia harus berbaik-baik kan kepada alam sekitarnya.
"Baik itu kepada tumbuhan kepada binatang,kepada setan, kepada jin kepada siluman dan kepada makhluk-makhluk diciptakan oleh maha kuasa," paparnya.
Dengan berbaik-baik kepada mereka sehingga nanti bisa mempelajari pengetahuan itu.
"Maka dia tahu makna manfaat dari sirih, dia tahu manfaat dari telur, tahu manfaat dari patah tulang, manfaat dari air yang didinginkan, manfaat dari air hujan dia juga menerima informasi dari makhluk-makhluk lain," tandasnya.