Bekerjasama dengan Essentia Bangun Usaha Beauty Care, Body Care dan Skin Care via Digital Marketing
JEJAKVIRAL - Kemajuan teknologi digital menjadikan dunia tanpa batas. Tentu saja ini juga menjadikan persaingan usaha semakin mudah.
Namun demikian perlu menciptakan brand menarik agar pasar konsumen tertarik dengan produk yang dihasilkan.
Bahkan dengan dunia digital ini membuat siapa pun, dari kelas mana pun bisa membuat brand produknya tanpa mengeluarkan biaya yang besar.
"Indonesia sendiri ada sekitar 370 juta pengguna ponsel. 204 juta di antaranya pengguna internet dan 190 juta pengguna media sosial," papar Asep Herna, Creative Director MACS909 Advertising & Communication seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (25/8/2025).
Dengan demikian, sebetulnya market kita itu sudah hidup betul-betul di dunia digital, bahkan melakukan transaksi di dunia maya atau internet.
"Brand itu boleh dibilang adalah kemasan dari produk yang akan kita jual atau kita pasarkan," ujarnya.
Untuk memiliki brand memang sangat mudah. Tetapi untuk menciptakan brand yang unik, yang khusus yang spesial, yang memiliki potensi untuk menjadi objek atau subjek yang jatuh cintai oleh audience itu berbeda.
"Bikin brand caranya sangat mudah. Di era digital saat ini anak-anak gen Z bahkan banyak sekali mendirikan brand brand tertentu tapi ternyata mudah bikin tapi juga mudah mati. Berarti ada sesuatu yang salah," terangnya.
Untuk membuat brand prosesnya itu saat ini tidak sesulit ketika tahun 90-an kehidupan dunia real.
"Tapi saat ini orang ketika cari sebuah brand itu bahkan melakukan transaksi sebagian besar terjadi di dunia maya dunia Internet bukan lagi dunia offline," tambahnya.
Dari riset yang ada, sebagian besar orang dalam 8 jam sehari berselancar di dunia Internet, 2 jam 50 menit menonton TV, tiga jam 13 menit bermedia sosial.
"Artinya kalau digabung dengan internet di kehidupannya itu di dunia riil 11 jam. Artinya sebagian besar hidupnya di dunia maya itu adanya digital.
Berikut beberapa media yang sesuai urutan paling terbanyak digunakan saat ini adalah WhatsApp itu masih tetap urutan pertama, lantas Instagram, Facebook, Tik tok, Telegram.
"Tik tok kita tiba-tiba menyalip dan rata-rata alasan orang menggunakan internet itu cari informasi itu termasuk brand yang recommended.
Jadi saat ini orang begitu bebas ya ketika mau beli brand itu kalau zaman dulu kan pola marketingnya tuh Attention, Interest, Desire, Action (AIDA). Kalau sekarang itu AISAS (Attention Interest).
Nah pola ini orang enggak langsung beli, tapi searching dulu di internet apakah cukup meyakinkan tidak brand yang mau dibeli ini. Kira-kira begitu cukup meyakinkan baru mereka action membeli.
Setelah membeli apakah mereka puas atau kecewa, mereka kemudian sharing pengalamannya lagi di internet.
Itu pola yang harus para brand owner perhatikan pola consumption yang nanti saat kita branding pun harus mengikuti pola konsumsi tersebut
"Ini bisa disimpulkan bahwa terjadi demokratisasi akses informasi yang berimbas kepada demokratisasi ekonomi. Jadi siapapun punya peluang yang sama untuk sejahtera untuk mengakses informasi untuk bisa terkenal. Bisa sama-sama terkenal bisa menciptakan brand bahkan powerpoint-nya dengan para pemilik modal," paparnya.
Dengan kemajuan dunia digital, tidak perlu lagi punya pabrik.
Ini adalah suatu fakta untuk punya brand. Misalkan kita bisa bekerja sama dengan essentia itu bisa memproduksi produk-produk yang berhubungan dengan beauty care dengan body care dengan skin care dan sebagainya.
Maka siapapun bisa memiliki akses untuk menciptakan brand sendiri. Jadi kita nggak perlu berinvestasi yang sangat amat mahal untuk produknya. Kita cukup memiliki knowledge proses bagaimana menciptakan brand.
"Jadi tidak perlu lagi punya pabrik, kita tidak perlu lagi punya bangunan megah untuk menciptakan toko atau etalase yang luar biasa. Karena kita bisa jualan di marketplace bisa create awal media kita sendiri seperti website dan sebagainya. Sehingga fakta-fakta seperti ini tuh membuat kita semakin mudah menciptakan brand," tandasnya.