Skip to main content
x

Bakera, Cara Sehat Berdasar Pada Keseimbangan Antara Unsur Dingin dan Panas dalam Tubuh Manusia

JEJAKVIRAL - Kawasan Minahasa, Sulawesi Utara menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat menarik untuk  menjadi salah satu pilihan buat wisatawan mancanegara dan lokal untuk datang ke sana.

Berbagai destinasi wisata banyak  terdapat di Minahasa. Dan yang menarik, dari catatan yang ada, tingkat umur kehidupan orang Minahasa lebih tinggi dari daerah lainnya.

Hal ini tak terlepas dari budaya kesehatan dan kebugaran yang bagi orang  Minahasa dan menjadi tradisi bagi masyarakat di sana, yakni Bakera.

Bakera menjadi salah satu daya tarik  wellness tourism bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Minahasa dan ingin memiliki umur panjang.

Saat Covid-19 beberapa tahun silam, praktik Bakera menjadi pilihan masyarakat di sana untuk tetap sehat meski dilanda wabah yang berasal dari China tersebut.

Dr Drs Maria Heny Prakiknjo, Antropologi Kesehatan dari Universitas Sam Ratulangi seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (4/6/2025) membenarkan bahwa Bakera merupakan tradisi kesehatan dan kebugaran tubuh etnis Minahasa.

"Tidak menutup kemungkinan ada juga Bakera di tempat lain. Namun berbeda dengan yang di Minahasa," jelas Maria Heny.

Menurutnya, kalau kita bicara orang Minahasa bila melihat peta  di Sulawesi Utara ada beberapa suku bangsa.

"Tapi yang akan menjadi sasaran pemaparan saya berdasarkan hasil penelitian adalah yang Minahasa. Karena kebiasaan Bakera  ada di beberapa suku bangsa  lain, selain etnis Minahasa tapi caranya berbeda," terangnya.

Dikatakan Maria Heny, kalau orang Minahasa ketika dia bicara: Anda sehat atau tidak akan mereferensikan kepada  keseimbangan antara unsur panas dan dingin dalam tubuh manusia.

"Apabila kedua unsur tersebut hilang dalam tubuh manusia percaya dapat digantikan dengan unsur panas atau   dingin, bisa diambil dari alam sekitar," tambahnya.

Unsur panas dan dingin tersebut, lanjut Maria Heny, bisa berasal dari tumbuh-tumbuhan  atau  sumber-sumber air panas yang ada di Minahasa.

"Sumber-sumber air panas di Minahasa itu banyak sekali," imbuhnya.

Secara budaya, lanjutnya,  orang Minahasa percaya ketika wanita pasca melahirkan tubuhnya berada dalam kondisi dingin.

"Untuk menetralisir atau  kondisi dingin itu maka ada beberapa  paradigma berpikir yang sifatnya sangat-sangat budaya, yaitu  pertama  unsur panas itu  hilang bersamaan dengan lahirnya jabang bayi," jelasnya.

Begitu bayi  keluar maka panas dalam tubuh perempuan itu atau wanita itu hilang. 

Kemudian ada kepercayaan juga bahwa keringat dari perempuan atau Ibu yang baru melahirkan berbau tidak enak, terutama organ-organ bagian reproduksi.

"Nah untuk menetralisir maka perlu dimasukkan unsur panas ke dalam tubuh ibu tadi dengan ramuan dari tumbuhan tertentu yang bisa memiliki unsur panas juga bisa  menghilangkan bau dengan tumbuhan tumbuh-tumbuhan yang beraroma," tandasnya.